Saturday, June 15, 2013

Bantal Keluarga: Kiat menjaga pernikahan agar tidak cedera



Judul: Bantal Keluarga: Kiat menjaga pernikahan agar tidak cedera
Penulis: Paul Gunadi
Penerbit: Metanoia: 2009
Kategori: Keluarga

Paul Gunadi (penulis buku ini) adalah seorang dosen di berbagai sekolah teologi dan seorang konselor professional.
Dalam pembukaan buku, dinyatakan bahwa keluarga Kristen seperti keluarga-keluarga lain juga mengalami masalah-masalah. Nah, masalah ini harus dihadapi dengan kesediaan untuk menjadikan Firman Tuhan sebagi fondasi keluarga dan pedoman keluarga. Inilah yang disebut bantal keluarga yaitu Firman Tuhan menjadi bantal yang memberikan kenyamanan dalam hidup keluarga sekaligus menjadi peredam dari konflik-konflik yang keras agar tidak menghancurkan rumah tangga.
Ada 7 hal yang diambil dari Efesus pasal 4:
Bantal 1: Mengatakan kebenaran
dipaparkan sulitnya mengatakan kebenaran tapi juga pentingnya kebenaran untuk dikatakan.
Bantal 2: Mengendalikan amarah
Bantal 3: Hidup disiplin
Bantal 4: Mengenali kebutuhan
kebutuhan akan kasih sayang, perkataan yang positif dan mendorong.
Bantal 5: Tidak mendukakan Roh Kudus
tidak berdosa, tidak lari dari Tuhan, berani mengakui dosa
Bantal 6: Berbuat hal-hal baik dalam kehidupan sehari-hari
Bantal 7: Mengampuni

Artikel berikutnya “terlepas tapi tidak terpisah” yang berkenaan dengan keluarga yang sudah “dingin-dingin”. Dijabarkan bagaimana membangun rasa percaya lagi dari hal-hal kecil seperti tidak bohong, menepati janji sehingga akhirnya terbangun rasa percaya dan rasa percaya satu dengan yang lain ini akan menimbulkan suatu kondisi keintiman/kedekatan yang tulus.

Lalu ada dua artikel yang saling terkait yaitu “makna kata ‘mengasihi istri’ bagi suami” dan “makna kata ‘tunduk pada suami’ bagi istri.
Pada artikel pertama, penulis menyadari bahwa dalam budaya kita (timur) seringkali pemimpin/kepala keluarga menegakkan wibawanya dengan bersikap otoriter. Wibawanya menimbulkan rasa takut kepada anggota keluarga. Namun menurut alkitab, wibawa kepala keluarga Kristen seharusnya muncul dari kasih dan pelayanan. Dengan cara seperti apa wibawa kasih bisa muncul? Hal itu dijabarkan di artikel ini.
Sedangkan pada artikel berikutnya dibahas mengapa suami yang ditetapkan Tuhan jadi kepala keluarga. Lalu juga ketundukan seperti apa yang istri harus tunjukkan pada suami, apakah tunduk buta atau seperti apa? Selain itu dibahas juga tips praktis seperti cara bicara dan cara memberi masukan ke suami.

Lalu ada juga artikel “jika kita berselingkuh”
Dijabarkan tipuan-tipuan dunia dalam awal maupun di dalam perselingkuhan seperti:
-ah, hanya persahabatan saja
-ah, saya pasti bisa lepas
-memberi nama lain sehingga nampak kurang berdosa (mis.selingan, jajan, manusia bisa khilaf)
-bersandar pada perasaan (marah, sedih, senang, puas, malu)
-mengasihani rekan zinah (padahal yang harusnya dikasihani adalah keluarga sah)
-menyalahkan orang lain
Dijelaskan juga tahap penanganan
-bersabar (jangan putus asa dan berpikir tidak mungkin ada pemulihan)
-akui dosa!
-minta maaf berulang kali
-berhenti berdosa demi Tuhan

Artikel terakhir tentang “Pubertas Kedua: mitos atau realitas?”
Menarik sekali dijabarkan oleh penulis bahwa adanya perubahan yang menjadi pemicu fase puber kedua pada masa paruh baya. Perubahan pada masa paruh baya ini yang membuat orang berusaha untuk menyesuaikan diri, dan jika tidak waspada bisa jadi masalah “puber kedua”.
Pada masa paruh baya untuk menyesuaikan dengan menurunnya fisik maka banyak orang:
-berusaha menarik perhatian lawan jenis (untuk meningkatkan rasa percaya diri)
-bersandar/menonjolkan kemapanan ekonomi
-tampil sebagai orang yang matang dan dewasa (bisa membuat orang lain yang lebih muda tertarik)
-seksualitas di keluarga sudah tidak “berkesan” lagi
-pasangan membiarkan
-meledaknya masalah keluarga
Kemudian dipaparkan juga cara-cara antisipasi dan penanganannya.
 
Jadi buku ini memang sangat tepat dalam mengangkat topik-topik yang muncul dalam kehidupan berkeluarga. Pengalaman konseling dari penulis sangat nyata membuat tulisannya ini praktis, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta sangat detail dalam mengamati hal-hal kecil yang seringkali tidak teramati tapi sebenarnya penting dalam menciptakan “bantal” dalam keluarga, sehingga dalam keluarga ada kenyamanan dan lebih kuat dalam menghadapi konflik.

Friday, May 24, 2013

Karunia Musik: Para Komponis Besar dan Pengaruh Mereka

Judul: Karunia Musik: Para Komponis Besar dan Pengaruh Mereka
Penulis: Jane Stuart Smith dan Betty Carlson
Penerbit: Momentum, 2003
Halaman: 458 halaman
Kategori: Biografi, musik, religiusitas

Musik…. Berkat terbesar bagi umat manusia demikian banyak kata orang. Musik memberikan warna pada hidup kita. Saat kita senang kita menyanyi, saat kita sedih kita menyanyi untuk mengungkapkan perasaan dan menghibur diri, saat kita jatuh cinta kita menyanyi sebagai ekspresi gejolak cinta kita, dsb.
Tidak ada salahnya kita mengenal berbagai macam musik, karena itu seperti memiliki barang berharga. Semakin banyak kita punya, semakin kita luas wawasan serta semakin dapat menikmati keseluruhan kekayaan kebudayaan.
Pada masa ini sayangnya banyak orang Kristen tidak mengenal musik klasik sebagai salah satu tipe musik yang “kaya dan dalam”. Buku ini ditulis untuk memperkenalkan orang-orang saat ini dengan musik klasik. Para pembaca tidak diharuskan untuk selalu menyukai musik klasik, namun melalui buku ini pembaca dapat memperoleh suatu pengenalan dan berkat musik yang lebih indah.

Buku ini memulai dengan peranan kitab mazmur dalam sejarah musik barat. Mazmur 98 mengilhami Isaac Watts untuk “Joy to the World” serta Mazmur 90 untuk lagu “O God, our Help in Ages Past”. Luther menciptakan “A Mighty Fortress” dari Mazmur 46. Mazmur terus dipakai sejak zaman Yesus, hingga rasul-rasul. Kemudian terus dipakai misalkan oleh Ambrosius dan Paus Gregorius I.  Pada masa Luther dan Calvin, Mazmur pun dinyanyikan, bukan sekedar dibaca. Johan Sebastian Bach dan Handel juga. Ini menunjukkan bahwa Mazmur membawa pengaruh yang besar kepada sejarah musik, nyanyian mazmur telah menjadi “garam dunia” dalam dunia musik.

Antonio Vivaldi
Hidup tidak selalu adil, tapi hidup yang bermutu akan seperti monumen. Demikian gambaran dari seorang komponis terkenal, Antonio Vivaldi 1678-1741. Ia harus meninggal dalam kemiskinan dan tanpa kemasyuran. Kuburannya tidak diketahui di mana. Musiknya tak dikenal, dilupakan dalam perpustakaan pribadi atau umum. Namun karyanya ternyata diangkat kembali 20-30 tahun kemudian oleh komponis lain bernama Bach. Dia menjadi kepala dari sekolah musik yang bekerja sama dengan biara-biara yang menampung anak-anak terlantar. Anak-anak terlantar ini lalu juga dibesarkan dengan pendidikan musik sehingga mereka menjadi anak-anak yang tumbuh besar dengan musik dan memainkan musik dengan indah. Anak-anak ini lalu seringkali muncul dalam “konser amal” dan ditonton oleh pengunjung, dan konser mereka ini sangat bagus. Vivaldi-lah yang menggubah lagu-lagu konser mereka hingga 400 konserto.
Salah satu karya terkenal dan terpopuler vivaldia adalah “four season”

Johann Sebastian Bach (1685-1750)
Bersal darikeluarga pemusik. Mereka meninggalkan Hungaria dalam suatu perang berbau agama karena mereka memilih untuk mempertahankan iman alkitabiah mereka. Bach dikenal sebagai komposer (penggubah lagu) terbesar. Dia berada di masa musik Barok. Bach lahir di kota Eisenach, Jerman; kota yang sama di mana 150 tahun sebelumnya Marthin Luther menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman. Bisa dikatakan bhwa jika tidak ada seorang Luther maka tidak ada seorang Bach. Fokus kehidupan spiritual Bach adalah dalam kekristenan dan dalam pelayanan rohani melalui musik. Bach menyadari bahwa dia berhutang kepada Tuhan dan Juruselamatnya, ini menjadi motivasinya dalam berkarya. Keyakinan akan relaitas surga dikatakan membuat musiknya tidak lekang oleh waktu. Ia terus berkarya dengan alasan utama untuk kemuliaan Allah dan menyegarkan pikiran. Karyanya mempengaruhi Mozart, Beethoven, Mendelssohn, Chopin dsb.
Karya Bach disebutkan berhasil menyatukan Alkitab, musik dan sejarah menjai satu kesatuan yang menyeluruh. Mirip dengan Rembrant dalam hal lukisan yang mengungkapkan kebenaran Alkitab melalui media seni yang tinggi.
Puncak karya Bach sebagai musisi gereja adalah karya berjudul St. John Passion dan St.Matthew Passion. Dalam naskah-naskah musiknya ia kerap kali menuliskan kata-kata, “dengan pertolongan Yesus,” atau “kemuliaan hanya bagi Allah.” Ini menunjukkan bahwa karunia musiknya berasal dari Tuhan.
Dia meninggal dalam usia 65 tahun, setelah sebelumnya bergelut dengan memburuknya penglihatannya, bahkan hingga buta. Berkenaan dengan kematian dia pernah membuat lagu “Come Sweet Death” yang menunjukkan perenungannya yang mendalam tentang kematian. Dia menyambut kematian walapun dia juga takut terhadapnya. Di antara ketakutannya dan kerinduannya akan surga berdirilah suatu batu karang yang kokoh yaitu imannya kepada Tuhan Yesus. Lalu pada saat menjelang kematian di atas ranjang dia masih mendiktekan lagu terakhirnya yaitu “Before Thy Throne I Now Appear” (Di HadapanMu Tuhan Aku Sekarang Datang).

Buku ini terus menerus menyampaikan himbauan, “Kita perlu mundur agar dapat melangkah maju” yang berarti kita perlu melihat dan mempelajari sejarah agar dapat mencapai hal-hal yang lebih baik di masa depan.Ada komposer lain seperti Handel, Mozart, Beethoven, Mendelssohn, Brahms, Tchaikovsky dan lainnya. Ada 40an nama yang dibahas dalam buku ini.

Pada akhirnya kesenian (termasuk musik) adalah suatu karunia yang dimiliki manusia, karena manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Manusia menikmati keindahan kesenian karena Tuhan pun ternyata berkarya dan menciptakan dengan indah. Oleh sebab itu kesenian juga adalah suatu hal dalam kebudayaan yang harus digarap oleh orang-orang Kristen secara kreatif.
Luther mengatakan, “Musik adalah karunia dari Allah, bukan dari manusia… setelah teologi, saya memberi tempat teratas dan penghormatan tertinggi untuk musik.” Lalu dia juga pernah berkata, “Saya berkeyakinan bahwa semua kesenian, dan khususnya musik, seharusnya ditempatkan dalam pelayanan kepada Dia yang telah menciptakan dan memberikan semua itu.” Jadi seni adalah suatu ibadah kepada Tuhan, dan sepantasnya kita selalu berusaha memberikan seni yang terbaik bagi Tuhan kita.

Tinjauan akhir:
-Nampak bahwa bagi penulis buku ini perlu sekali untuk generasi saat ini selalu bersedia untuk mempelajari kekayaan seni dan sejarah di masa lalu. Musik-musik klasik ini dipandang sebagai suatu “harta” dalam dunia seni dan selayaknya diketahui oleh generasi saat ini. Musik-musik ini dipandang sebagai karya yang dibuat dengan serius, dengan pengorbanan dan penataan musikal yang baik serta dipengaruhi bahkan memberitakan tentang alkitab. Tentu saja ini kadang kala berlawanan dengan musik saat ini yang lebih cenderung bersifat hiburan, industrialis, mudah didengar dan kadangkala isinya lebih mirip dengan ajaran duniawi daripada alkitabiah.
-Kemudian buku ini juga memuat kisah hidup para komposer yang luar biasa. Kisah hidup mereka layak untuk memperkaya hidup kita pada saat ini. Hidup yang penuh perjuangan, devosi, dan iman kepada Tuhan. Buku ini bicara tentang musik, tapi kisah hidup dan lagu-lagu hasil karya mereka ternyata juga menginspirasi hidup para pembaca.
-Sangat membantu bahwa di tiap akhir bab disertakan bacaan lebih lanjut dan juga judul/nama karya-karya musik yang “terkenal” dari tiap komposer. Sehingga jika kita dapat mencarinya di internet (youtube) atau toko musik untuk mendengarkan lagu-lagu itu, sekaligus mempelajari keindahan dari karya-karya klasik ini.

Total Quality Life: Strategi Mencapai Hidup yang Berkualitas

Judul Buku       : Total Quality Life: Strategi Mencapai Hidup yang Berkualitas
Penulis             : Stan Toler
Penerjemah      : Dian Pradana
Penerbit           : PT BPK Gunung Mulia
Halaman           : 187 halaman
Kategori           : Kehidupan Kristen, motivasi Kristen, manajemen hidup

Buku ini muncul sebagai suatu tanggapan akan kehidupan orang Kristen yang ternyata jauh dari kehidupan yang berkualitas. Kehidupan orang Kristen ternyata tidak memuaskan dan tidak sesuai tujuan-tujuan yang diharapkan. Toler melalui buku ini menyatakan bahwa kehidupan yang berkualitas total ini adalah sesuatu yang bisa dicapai oleh setiap orang Kristen asalkan mereka bersedia untuk berusaha mencapainya. Jadi hidup yang berkualitas total adalah hidup yang bertujuan, efektif dan bermakna.

Untuk mencapai suatu hidup yang berkualitas total maka seseorang harus memulai dengan Ketetapan hati untuk mengejar hidup yang berkualitas. Seseorang harus memiliki ketetapan hati/ tekad untuk menjadikan hidupnya hidup yang berkualitas dan bukan sekedar hidup yang biasa-biasa saja.
Kehidupan berkalitas total ini memiliki ciri yaitu keempat bidang kehidupan (pikiran, tubuh, uang, roh) tidak terpecah-pecah menjadi satu kesatuan yang terkait dalam pribadi seseorang. 
Jadi ada totalitas hubungan antara mind, body, money, spirit.

Setelah ada ketetapan hati/tekad maka yang dibutuhkan berikutnya adalah VISI sebagai tolak ukur kualitas total. Kita harus memiliki bayangan akan menjadi seperti apa hidup kita. Inilah visi.
Visi dari hidup berkualitas total mencakup 4 aspek di atas yaitu pikiran, tubuh, uang dan roh. Bagaimana mencapai pikiran yang berkualitas (bukan selalu berarti untuk mencapai S-3, tapi pikiran yang berkualitas), tubuh yang berkualitas (bukan selalu berarti menjadi binaragawan, tapi sehat/bugar), keuangan yang berkualitas (bukan selalu kaya raya, tapi sejahtera bebas utang), dan roh yang berkualitas. Tentang visi berkualitas ini dibahas dengan panjang lebar.

Pikiran:
Pikiran menjadi pendirian, pendirian menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, kunci mengendalikan hidup anda adalah dengan mengendalikan pikiran anda.
Oleh sebab itu perlu untuk mengevaluasi pikiran kita apakah mendukung hidup berkualitas total.
-          Detoksifikasi mental (bersihkan pikiran, baca kitab suci, hindari berita-berita remeh dan keributan info, pikirkan yang baik, baca buku yang inspiratif)
-          Inventariskan pikiran anda (lihatlah dalam hal pikiran, tubuh, uang, rohani, keluarga, pekerjaan, dan lainnya. Setelah lihat perhatikan apa pikiran anda atau fokus anda dalam hal-hal di atas, apakah hal yang baik atau jelek, hal yang positif atau negatif, atau selama ini tidak pernah anda sadari)
-          Kemudian membuat pilihan yang sehat

Tubuh yang sehat:
Tubuh seringkali diabaikan untuk mencapai hidup yang berkualitas, atau sebaliknya kesehatan tubuh dianggap segala. Namun yang benar adalah tubuh perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi 3 bidang hidup yang lain (pikiran, keuangan dan rohani). 
Ada 3 faktor penting untuk tubuh yang sehat yaitu (1) makanan, (2) waktu istirahat dan (3) olahraga!

Sumber penghasilan:
Jangan beli yang anda tidak mampu beli
Banyaklah memberi: dari level kepercayaan, komitmen, level kebahagiaan hingga istirahat
Jim Elliot, seorang misionaris martir di Ekuador, menuliskan “orang yang pandai adalah ia yang memberikan apa yang tidak bisa ia simpan untuk mendapatkan apa yang tidak dapat hilang.”

Jiwa:
Kita adalah manusia yang utuh, pribadi yang integral, oleh sebab itu kita harus memberi makan jiwa kita seperti memberi makan tubuh dan pikiran kita.
Doa: ACTS, bicara dengan dan mendengarkan Tuhan
Mengucap syukur: penelitian mengungkapkan orang yang bersyukur lebih sehat jiwanya dan merasa lebih dicintai. Tipsnya adalah dengan melek mata dan peka terhadap sekeliling kita yang penuh keajaiban.
Meditasi: seperti Daud juga memeditasikan kebaikan Tuhan, keajaiban pekerjaan Tuhan, kebenaran FirmanNya. Meditasi ini meliputi meditasi konsentrasi, yaitu fokus pada pernafasan atau suatu hal dan meditasi kesadaran yaitu melihat dan mengamati hal-hal yang muncul dalam pikiran kita (mengambil jarak jadi orang ketiga).
Meditasi ini juga akan lebih mudah jika kita menjauhkan diri dari “kericuhan” TV, HP, dsb.

Disiplin:
Disiplin bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan suatu pelatihan untuk menjadi lebih baik!
Kita harus disiplin untuk:
-Mengaudit keyakinan-keyakinan.
Keyakinan kita menentukan tindakan kita, oleh sebab itu penting untuk mengaudit dan mengenalinya.
-kemudian menentukan nilai-nilai.
(nilai hidup yang mau kita hidupi, nilai yang positif, seperti mau mengasihi, menjadi orang yang berani).
-bergaul dengan orang-orang yang positif.
-memilih tertawa
-mengatur ruangan
-menggunakan menit-menit yang ada (manajemen waktu)
-bebas hutang
-warisan

Perubahan
Plan-Do-Check-Act (PDCA).
Perubahan harus direncanakan secara detail, kemudian dilaksanakan, setelah jangka waktu tertentu di cek/evaluasi kegagalan atau keberhasilan dari pelaksanaan rencana, lalu adakan perbaikan rencana (revisi) lalu lanjutkan lagi dengan tindakan/aksi sesuai revisi. Lakukan terus prinsip ini hingga tercapai sempurna.

Pencapaian
Mengingatkan sekali lagi bahwa tujuan-tujuan/mimpi kita untuk hidup berkualitas total itu dalam jangkauan kita.

Tanggapan:
-Buku ini adalah buku yang motivatif dan membantu mengatur hidup kita menjadi lebih baik. Memiliki ciri-ciri Kristen yang kuat dalam pendekatannya walaupun sangat amerika juga (optimis, usaha keras).
-Bagus sebagai buku pengantar untuk kemudian kita mencari buku yang lebih dalam untuk masalah-masalah pokok dalam kita mencapai hidup berkualitas total. Misalkan ada masalah dengan uang, ada buku-buku yang lebih detail dan lengkap menuntun untuk keluar dari masalah keuangan.
-Bagus karena disertai dengan tuntunan dan pertanyaan untuk tindak lanjut, sehingga pembaca dapat mengikuti langkah demi langkah menuju hidup berkualitas total
 

Wednesday, May 22, 2013

Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar)



Judul: Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar)
Penulis: Kyle Idleman
Penerbit: Literatur Perkantas Jawa Timur (bisa didapatkan di Getsemane/Gramedia)

Kyle Idleman adalah seorang pendeta dari Gereja Southeast Christian di Louisville, Kentucky yang merupakan gereja terbesar kelima di Amerika Serikat. 

Penulis bersaksi bahwa pada suatu waktu sebelum Paskah dia bergumul keras dalam memikirkan apa yang akan dia sampaikan dalam khotbah Paskah itu. Dia tahu bahwa pada masa Paskah (dan Natal) banyak jemaat “musiman” yang datang. Dan dia berharap dengan khotbah yang “luar biasa” maka jemaat musiman itu akan bertobat dan rutin beribadah. Namun yang terjadi adalah setelah Paskah itu jemaat musiman itu tetap menghilang. Pendeta ini sangat susah dan bingung, kenapa ini harus terjadi. Saat itu dia menyadari bahwa Yesus pun tidak pernah membuat khotbahNya menjadi sesuatu yang menarik banyak orang. Bukankah Yesus pernah mengalami saat berkhotbah tentang kebenaran pada akhirnya para pengikutnya meninggalkan dia semua dengan mengatakan, “perkataanNya ini keras, siapa yang dapat menerimanya”. Saat itu pendeta Idleman menangis, karena selama ini dia berusaha untuk membuat khotbahnya menyenangkan pendengar, menarik pendengar, bahkan menggambarkan Yesus sebagai orang yang menarik agar orang-orang mau datang padanya. Dia bertobat dan kemudian dengan serius untuk memberitakan Firman Tuhan bukan untuk menyenangkan manusia melainkan memberitakan kebenaran Tuhan baik itu disukai atau tidak disukai oleh pendengar. 

Hal ini terjadi karena sebenarnya banyak jemaat atau orang Kristen adalah seorang penggemar Yesus. Penggemar Yesus ingin berada cukup dekat dengan Yesus untuk mendapatkan berkat-berkatnNya namun tidak ingin untuk terlalu dekat sehingga mereka harus berkorban. Selama menyenangkan dan aman maka penggemar Yesus akan selalu “dekat”, seperti bergereja, melayani, memberikan persembahan dan berdoa. Namun apakah ini cukup? Apakah ini arti dari mengikut Yesus? Apakah ini arti dari menjadi murid-murid Kristus? Benarkah tanpa pengorbanan kita bisa menjadi pengikutNya? Buku ini merupakan suatu pembimbing untuk mencapai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. 

Bagian 1: Penggemar atau Pengikut? Sebuah diagnosis yang jujur
1.       Mau dibawa ke mana?
pada bagian ini penulis menunjukkan bahwa suatu hubungan tidak bisa selama-lamanya status quo, melainkan akan timbul pertanyaan, “akan dibawa ke mana hubungan kita”? Dalam dunia percintaan bisa digambarkan dengan pertanyaan, “akan dibawa ke mana hubungan kita? Mau menikah atau tidak? Atau mau putus? Atau bagaimana?”Jadi hubungan dengan Tuhan ini bagaimana? Mau ke mana?
2.       Sebuah keputusan atau sebuah komitmen?
Menurut penulis keputusan dan komitmen itu berbeda.  Dalam kenyataan banyak orang memutuskan percaya Yesus tapi tidak mengikut Yesus. Alkitab tidak mengizinkan hal ini. Dalam Alkitab Yesus mengatakan “percayalah padaKu” sebanyak 5 kali, namun perkataan, “ikutlah aku” sekitar 20 kali. Ini menunjukkan bahwa percaya dan ikutlah itu sebenarnya terkait, percaya haruslah mengikut, percaya tidak bisa sekedar percaya tanpa kemudian mengalami perubahan hidup dan mengikuti Yesus.
3.       Pengetahuan tentang diriNya atau keintiman denganNya
Tuhan tidak akan mengukur kerohanian kita dari pengetahuan kita tentang diriNya (hafal ayat-ayat alkitab, sejarah gereja, tata gereja) melainkan keintiman hubungan denganNya. Kata Ibraninya adalah Yada, yang berarti mengenal seseorang, atau bisa juga berarti berpadunya kedua jiwa. Kata Yada ini juga yang muncul dalam pengenalan (persetubuhan) antara suami istri. Jadi keintiman dengan Tuhan itu seharusnya mirip tetapi juga melampaui pengenalan suami istri.
4.       Salah satu atau hanya satu-satunya?
Menjadi murid Yesus berarti menjadikan Yesus sebagai yang satu-satunya dalam kehidupan. Kurang lebih seperti suami/istri kita adalah satu-satunya bagi kita. Ada beberapa pertanyaan yang menolong kita untuk melihat apakah kita mengutamakan Yesus atau tidak.
- Anda menghabiskan uang anda untuk apa?
-Ketika anda terluka, ke mana anda pergi mencari penghiburan?
-Apa yang paling mengecewakan atau membuat anda frustasi?
-Apa yang membuat anda sangat bersemangat?
Jika jawabannya bukan Yesus maka kita perlu untuk waspada.
5.       Mengikut yesus atau mengikuti aturan?
Yesus mengecam orang-orang yang mengira bahwa mengikut Yesus sama dengan menaati aturan keagamaan dan kegiatan Kristen. Bisa jadi Kekristenan diwariskan kepada anda atau anda belajar banyak Alkitab dan melakukan kesalehan Kristen, namun hal-hal ini sia-sia jika hati anda tidak benar-benar mencintai Yesus.
Beberapa hal menolong kita untuk melihat apakah kita mengikuti yesus atau aturan:
-apakah tindakan kita hanya dimaksudkan supaya dilihat orang?
-apakah kita lebih memilih aturan daripada relasi?
-apakah kita lebih memilih hukum daripada kasih?
- apakah kita lebih memilih rasa bersalah daripada kasih karunia?
6.       Mengandalkan diri sendiri atau dipenuhi oleh Roh Kudus
Dengan mengakui kelemahan maka kita dapat berserah pada kuasa Roh Kudus untuk menolong kita. Selain itu juga perlu untuk “pernafasan rohani” yaitu melatih diri untuk selalu dikuasai Roh Kudus. Latihannya dengan memaknai nafas, masuk dan keluar udara. Jika masuk kita maknai dengan mengizinkan diri dipenuhi Roh, jika kita menghembuskan nafas maka kita membuang dosa-dosa kita dan bertobat.
7.       Hubungan yang ditegaskan
Hubungan kita dengan Yesus perlu ditegaskan, apakah hanya sekedar pengagum atau pengikut. Penulis mengajak kita untuk melihat apakah kehidupan iman kita bukan berdasarkan perasaan, tapi berdasarkan kehidupan kita yang sesuai dengan firman Tuhan. Penulis mengajak kita untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan sembari hidup seperti yang Dia kehendaki. 

Bagian 2: Ajakan untuk Mengikuti Yesus (versi yang tidak diedit).
Disebut versi yang tidak diedit karena banyak gereja/khotbah yang mengedit pengorbanan atau kesulitan tatkala mengikut Yesus.
8.       Setiap orang diundang-sebuah undangan terbuka
Undangan keselamatan dari Yesus tidak dibatasi oleh asal usul, keterbatasan, dosa-dosa kita, dan kegagalan kita.
9.       Mau mengikut aku-sebuah pengejaran penuh gairah
Penggemar bersikap hati-hati, tidak mau mengorbakan semuanya. Ingin mendapatkan kesenangan sebanyak mungkin tanpa harus mengambil resiko mengalami kesulitan atau pengorbanan. sebaliknya pengikut mengerti bahwa mengikut Yesus adalah pengejaran yang mungkin menuntut segalanya dari mereka, namun itu tetaplah hal yang terbaik dan invertasi terbaik yang bisa diambil.
Penting bagi pengikut Kristus untuk menjaga gairah cinta kepada Yesus Kristus, sehingga bersedia mengikut Dia hingga akhir.
10.   Menyangkal diri-sebuah penyerahan total
Penyangkalan diri meliputi seluruh aspek kehidupan. Tidak bisa memilah-milah, di gereja untuk Tuhan, di tempat kerja setengah untuk Tuhan setengah untuk saya, sedangkan di tempat rekreasi seluruhnya untuk saya. Kita tidak dapat menyebut Yesus Tuhan (Tuan) tanpa menyatakan diri sebagai hambaNya. Hamba mengikuti perintah dan petunjuk dari tuannya. Jadi penyangkalan diri artinya kita menolak hak untuk menjadi tuan atas hidup kita sendiri, kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Allahlah yang sekarang menjadi tuan atas hidup kita. Yang dengan sukacita juga dikabarkan dalam injil bahwa tuan ini ternyata juga adalah bapa surgawi kita.
11.   Pikullah salibmu setiap hari-sebuah kematian tiap hari
Salib adalah simbol penghinan dan penderitaan. Jika saya tidak sedang menderita atau mengorbankan sesuatu benarkah saya mengikut yesus memikul salib? Salib juga adalah simbol kematian, menandakan bahwa kehidupan pengikut kristus adalah kematian setiap hari, suatu pilihan kita untuk mematikan diri kita dan menuhankan Yesus Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Bagian 3: Mengikut Yesus-Kemana pun, Kapan pun, Apa pun
12.   Kemana pun. Bagaimana dengan di sana?
Mengikut Yesus kemana pun kita berada, baik di keluarga, di tempat kerja, di pergaulan. Juga mengikut Yesus kemana pun kita menuju, ke tempat di mana Allah mengutus kita.
13.   Kapan pun. Bagaimana dengan sekarang?
14.   Apa pun. Bagaimana dengan yang itu?

Jadi buku ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk tidak sekedar menjadi penggemar Yesus, melainkan bersungguh-sungguh untuk menjadi pengikut Yesus.

Saturday, April 20, 2013

1009 view

Posting ini menandakan bahwa blog dan artikel-artikel resensi telah dibaca atau dilihat lebih dari 1000 (seribu) kali. Tepatnya 1009 kali pada saat posting ini. Akhirnya blog sarebu ini mencapai seribu view. =)
Semoga blog dan resensi ini dapat semakin menolong pembaca dalam memilih buku-buku untuk dibaca dan mendapatkan wawasan yang luas dan iman yang semakin kokoh serta kasih yang melimpah melalui resensi-resensi yang disampaikan.
Salam Sarebu... sampai jumpa di 2000 view...
Tuhan menyertai kita sekalian.

Thursday, April 11, 2013

Kabar Burung Tentang Dunia Lain



Kabar Burung Tentang Dunia Lain (Rumours of Another World)
Penulis: Philip Yancey
Penerbit: Gospel Press, 2004

Dunia saat ini sudah terjatuh dalam kecenderungan untuk “membedah” dan “memecah-mecah” setiap bagian bagian dari kehidupan. Manusia saat ini sangat menyenangi penelitian dan kemudian menjabarkan berbagai hal dalam berbagai macam hasil. Yancey menggambarkan bahwa dia mengikuti pameran “Body Plastic” dimana tubuh manusia asli diawetkan dengan zat plastic dan dapat dilihat bagian-bagian tubuh itu. Tubuh manusia itu dibedah dan diawetkan, dapat dilihat dan diselidiki, dapat dibandingkan organ yang sehat dengan yang sakit. Pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh manusia bertambah. Namun ada masalah. Akhirnya manusia mengalami kesulitan untuk “menyatukan” segala hal-hal itu. Bagian-bagian tubuh yang diawetkan itu bukan “manusia”, bagian-bagian itu jika dipisah-pisahkan bukanlah manusia hidup. Manusia hidup adalah suatu kesatuan yang luar biasa dari berbagai macam hal. Ilmu pengetahuan bersifat “membedah” sedangkan manusia perlu sarana untuk “menyatukan” sehingga hidup itu menjadi satu dan utuh bukan terpecah-pecah.
Menurut Yancey, Tuhanlah yang dapat menyatukan keterpecahan itu menjadi satu kesatuan. Banyak hal dalam dunia ini sebenarnya adalah kabar burung atau rumor tentang dunia lain, tentang suatu hal yang lebih tinggi dari dunia ini, tentang Allah. Oleh sebab itu manusia memiliki dua pilihan. Untuk mencari dunia lain itu atau untuk menyangkalinya. 

Yancey mengajak kepada para pembaca untuk belajar “memperhatikan”. Dalam kesibukan sehari-hari dan kericuan dunia teknologi modern (TV, smartphone) maka seringkali kita tidak memperhatikan akan tanda-tanda dari dunia yang lain, tanda-tanda keberadaan dan kehadiran Allah. Kita diajak untuk memperhatikan alam, untuk memperhatikan sikap-sikap dari manusia (baik yang bajik maupun sikap manusia yang terhilang), untuk memperhatikan pengalaman orang yang sakit. Tatkala kita memperhatikan dengan mata rohani maka kita dapat memandang kehidupan seperti Allah memandangnya, penyatuan dua dunia dan bukan pemisahan. 

Kemudian Yancey juga mengajak para pembaca untuk menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai kehidupan yang utuh, di mana Tuhan hadir dalam segala hal. Manusia memiliki kecenderungan untuk memisahkan antara yang rohani dengan yang duniawi misalkan gereja itu rohani, bekerja di kantor itu urusan duniawi. Yancey mengatakan bahwa hidup menjadi berarti tatkala dua dunia menjadi satu, yaitu saat dunia ini dengan dunia illahi menjadi satu dalam kehidupan kita, seperti dikutip dari kelompok Benediktin, “Berdoa ya artinya bekerja dan bekerja ya artinya berdoa.” Dengan bahasa lain, hidup menjadi utuh tatkala seseorang dalam kehidupan sehari-harinya memindahkan pusat operasi dan kepentingan dari diri sendiri kepada Allah. Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah. Dengan ini hidup menjadi bermakna, karena Allah ada dan kita hidup di dalam Dia. 

Buku ini juga memberikan 30 halaman untuk membahas tentang seks. Walaupun seks sering disetan-setankan oleh gereja, sebenarnya seks sendiri pada mulanya dan asalnya dapat membawa manusia untuk mengenali penciptanya dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Bagian buku ini akan membahas peran seks dalam kehidupan yang utuh, kehidupan yang tidak memisahkan dunia ini dengan Allah.
Yancey lalu akan menuliskan 4 bab tentang kekacauan yang melanda hidup manusia sehingga kehidupan manusia terpecah belah dan gagal untuk hidup bagi Allah. Segala hal yang nyata dalam kehidupan manusia seperti kejahatan, hasrat nafsu, dosa akan dipaparkan sebagai hal-hal yang menyamarkan kabar tentang dunia lain (Allah) namun sekaligus juga menunjukkan akan keberadaan dan pentingnya dunia lain (Allah). Cerita dan ilustrasi yang diberikan Yancey akan terasa tidak menghakimi para pembaca, dia tidak menuding ini itu salah atau ini itu dosa, tapi dia memaparkan cerita-cerita yang membuat kita menyadari bahwa ini atau itu memang salah atau berdosa. 

Pada bagian akhir dari bukunya Yancey mengajak para pembaca untuk menghidupi dua dunia ini bersama-sama, hidup dengan Allah dalam kita dan kita dalam Allah, dan tidak membagi-bagi kehidupan ini. Dikutip perkataan C.S. Lewis, “Bidiklah sorga maka bumi akan dilemparkan kepadamu. Bidiklah bumi maka engkau tidak akan mendapatkan kedua-duanya.” Yancey mengajak kita untuk hidup dan melayani dunia ini dengan sikap dan pikiran surgawi. Apa yang kita buat di dunia ini berpengaruh di dunia yang tidak kelihatan (kita berdoa di dunia, tapi doa kita didengar di surga; kita menolong orang miskin di dunia namun perbuatan kita seperti sudah melayani Tuhan sendiri), sebaliknya apa yang perjuangkan di dunia tidak kelihatan akan berpengaruh ke dunia yang kelihatan (doa orang benar membawa kesembuhan, pengampunan yang tulus muncul dari hati membawa dampak kepada orang-orang di dunia yang kita kasihi). 

Yancey mengajak para pembaca untuk memiliki iman yang teguh dan hidup di dalamnya bahwa Alkitab mengemukakan realist sebagai suatu keutuhan yang mulus, tanpa pembagian yang jelas di antara yang sacral dengan yang tidak senonoh, atau di antara yang almai dengan yang gaib. Hanya ada satu dunia Allah, dunia yang sakral yang telah dijadikan tidak senonoh oleh pemberontakan manusia. Misi kita adalah menyatukan kedua dunia ini, menghubungkannya kembali dan menguduskan dunia Allah, membangun kerajaan Allah di habitat bumi yang telah dinajiskan. Allah hidup dalam kita dan kita hidup dalam Allah. Sambil menanti akan tibanya hari penyatuan dua dunia, di mana kabar burung akan keberadaan Allah itu akan hilang dan digantikan dengan pujian karena Allah telah membawa bumi dan langit yang baru di mana Dia berada bersama-sama umatNya.