Wednesday, May 22, 2013

Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar)



Judul: Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar)
Penulis: Kyle Idleman
Penerbit: Literatur Perkantas Jawa Timur (bisa didapatkan di Getsemane/Gramedia)

Kyle Idleman adalah seorang pendeta dari Gereja Southeast Christian di Louisville, Kentucky yang merupakan gereja terbesar kelima di Amerika Serikat. 

Penulis bersaksi bahwa pada suatu waktu sebelum Paskah dia bergumul keras dalam memikirkan apa yang akan dia sampaikan dalam khotbah Paskah itu. Dia tahu bahwa pada masa Paskah (dan Natal) banyak jemaat “musiman” yang datang. Dan dia berharap dengan khotbah yang “luar biasa” maka jemaat musiman itu akan bertobat dan rutin beribadah. Namun yang terjadi adalah setelah Paskah itu jemaat musiman itu tetap menghilang. Pendeta ini sangat susah dan bingung, kenapa ini harus terjadi. Saat itu dia menyadari bahwa Yesus pun tidak pernah membuat khotbahNya menjadi sesuatu yang menarik banyak orang. Bukankah Yesus pernah mengalami saat berkhotbah tentang kebenaran pada akhirnya para pengikutnya meninggalkan dia semua dengan mengatakan, “perkataanNya ini keras, siapa yang dapat menerimanya”. Saat itu pendeta Idleman menangis, karena selama ini dia berusaha untuk membuat khotbahnya menyenangkan pendengar, menarik pendengar, bahkan menggambarkan Yesus sebagai orang yang menarik agar orang-orang mau datang padanya. Dia bertobat dan kemudian dengan serius untuk memberitakan Firman Tuhan bukan untuk menyenangkan manusia melainkan memberitakan kebenaran Tuhan baik itu disukai atau tidak disukai oleh pendengar. 

Hal ini terjadi karena sebenarnya banyak jemaat atau orang Kristen adalah seorang penggemar Yesus. Penggemar Yesus ingin berada cukup dekat dengan Yesus untuk mendapatkan berkat-berkatnNya namun tidak ingin untuk terlalu dekat sehingga mereka harus berkorban. Selama menyenangkan dan aman maka penggemar Yesus akan selalu “dekat”, seperti bergereja, melayani, memberikan persembahan dan berdoa. Namun apakah ini cukup? Apakah ini arti dari mengikut Yesus? Apakah ini arti dari menjadi murid-murid Kristus? Benarkah tanpa pengorbanan kita bisa menjadi pengikutNya? Buku ini merupakan suatu pembimbing untuk mencapai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. 

Bagian 1: Penggemar atau Pengikut? Sebuah diagnosis yang jujur
1.       Mau dibawa ke mana?
pada bagian ini penulis menunjukkan bahwa suatu hubungan tidak bisa selama-lamanya status quo, melainkan akan timbul pertanyaan, “akan dibawa ke mana hubungan kita”? Dalam dunia percintaan bisa digambarkan dengan pertanyaan, “akan dibawa ke mana hubungan kita? Mau menikah atau tidak? Atau mau putus? Atau bagaimana?”Jadi hubungan dengan Tuhan ini bagaimana? Mau ke mana?
2.       Sebuah keputusan atau sebuah komitmen?
Menurut penulis keputusan dan komitmen itu berbeda.  Dalam kenyataan banyak orang memutuskan percaya Yesus tapi tidak mengikut Yesus. Alkitab tidak mengizinkan hal ini. Dalam Alkitab Yesus mengatakan “percayalah padaKu” sebanyak 5 kali, namun perkataan, “ikutlah aku” sekitar 20 kali. Ini menunjukkan bahwa percaya dan ikutlah itu sebenarnya terkait, percaya haruslah mengikut, percaya tidak bisa sekedar percaya tanpa kemudian mengalami perubahan hidup dan mengikuti Yesus.
3.       Pengetahuan tentang diriNya atau keintiman denganNya
Tuhan tidak akan mengukur kerohanian kita dari pengetahuan kita tentang diriNya (hafal ayat-ayat alkitab, sejarah gereja, tata gereja) melainkan keintiman hubungan denganNya. Kata Ibraninya adalah Yada, yang berarti mengenal seseorang, atau bisa juga berarti berpadunya kedua jiwa. Kata Yada ini juga yang muncul dalam pengenalan (persetubuhan) antara suami istri. Jadi keintiman dengan Tuhan itu seharusnya mirip tetapi juga melampaui pengenalan suami istri.
4.       Salah satu atau hanya satu-satunya?
Menjadi murid Yesus berarti menjadikan Yesus sebagai yang satu-satunya dalam kehidupan. Kurang lebih seperti suami/istri kita adalah satu-satunya bagi kita. Ada beberapa pertanyaan yang menolong kita untuk melihat apakah kita mengutamakan Yesus atau tidak.
- Anda menghabiskan uang anda untuk apa?
-Ketika anda terluka, ke mana anda pergi mencari penghiburan?
-Apa yang paling mengecewakan atau membuat anda frustasi?
-Apa yang membuat anda sangat bersemangat?
Jika jawabannya bukan Yesus maka kita perlu untuk waspada.
5.       Mengikut yesus atau mengikuti aturan?
Yesus mengecam orang-orang yang mengira bahwa mengikut Yesus sama dengan menaati aturan keagamaan dan kegiatan Kristen. Bisa jadi Kekristenan diwariskan kepada anda atau anda belajar banyak Alkitab dan melakukan kesalehan Kristen, namun hal-hal ini sia-sia jika hati anda tidak benar-benar mencintai Yesus.
Beberapa hal menolong kita untuk melihat apakah kita mengikuti yesus atau aturan:
-apakah tindakan kita hanya dimaksudkan supaya dilihat orang?
-apakah kita lebih memilih aturan daripada relasi?
-apakah kita lebih memilih hukum daripada kasih?
- apakah kita lebih memilih rasa bersalah daripada kasih karunia?
6.       Mengandalkan diri sendiri atau dipenuhi oleh Roh Kudus
Dengan mengakui kelemahan maka kita dapat berserah pada kuasa Roh Kudus untuk menolong kita. Selain itu juga perlu untuk “pernafasan rohani” yaitu melatih diri untuk selalu dikuasai Roh Kudus. Latihannya dengan memaknai nafas, masuk dan keluar udara. Jika masuk kita maknai dengan mengizinkan diri dipenuhi Roh, jika kita menghembuskan nafas maka kita membuang dosa-dosa kita dan bertobat.
7.       Hubungan yang ditegaskan
Hubungan kita dengan Yesus perlu ditegaskan, apakah hanya sekedar pengagum atau pengikut. Penulis mengajak kita untuk melihat apakah kehidupan iman kita bukan berdasarkan perasaan, tapi berdasarkan kehidupan kita yang sesuai dengan firman Tuhan. Penulis mengajak kita untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan sembari hidup seperti yang Dia kehendaki. 

Bagian 2: Ajakan untuk Mengikuti Yesus (versi yang tidak diedit).
Disebut versi yang tidak diedit karena banyak gereja/khotbah yang mengedit pengorbanan atau kesulitan tatkala mengikut Yesus.
8.       Setiap orang diundang-sebuah undangan terbuka
Undangan keselamatan dari Yesus tidak dibatasi oleh asal usul, keterbatasan, dosa-dosa kita, dan kegagalan kita.
9.       Mau mengikut aku-sebuah pengejaran penuh gairah
Penggemar bersikap hati-hati, tidak mau mengorbakan semuanya. Ingin mendapatkan kesenangan sebanyak mungkin tanpa harus mengambil resiko mengalami kesulitan atau pengorbanan. sebaliknya pengikut mengerti bahwa mengikut Yesus adalah pengejaran yang mungkin menuntut segalanya dari mereka, namun itu tetaplah hal yang terbaik dan invertasi terbaik yang bisa diambil.
Penting bagi pengikut Kristus untuk menjaga gairah cinta kepada Yesus Kristus, sehingga bersedia mengikut Dia hingga akhir.
10.   Menyangkal diri-sebuah penyerahan total
Penyangkalan diri meliputi seluruh aspek kehidupan. Tidak bisa memilah-milah, di gereja untuk Tuhan, di tempat kerja setengah untuk Tuhan setengah untuk saya, sedangkan di tempat rekreasi seluruhnya untuk saya. Kita tidak dapat menyebut Yesus Tuhan (Tuan) tanpa menyatakan diri sebagai hambaNya. Hamba mengikuti perintah dan petunjuk dari tuannya. Jadi penyangkalan diri artinya kita menolak hak untuk menjadi tuan atas hidup kita sendiri, kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Allahlah yang sekarang menjadi tuan atas hidup kita. Yang dengan sukacita juga dikabarkan dalam injil bahwa tuan ini ternyata juga adalah bapa surgawi kita.
11.   Pikullah salibmu setiap hari-sebuah kematian tiap hari
Salib adalah simbol penghinan dan penderitaan. Jika saya tidak sedang menderita atau mengorbankan sesuatu benarkah saya mengikut yesus memikul salib? Salib juga adalah simbol kematian, menandakan bahwa kehidupan pengikut kristus adalah kematian setiap hari, suatu pilihan kita untuk mematikan diri kita dan menuhankan Yesus Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Bagian 3: Mengikut Yesus-Kemana pun, Kapan pun, Apa pun
12.   Kemana pun. Bagaimana dengan di sana?
Mengikut Yesus kemana pun kita berada, baik di keluarga, di tempat kerja, di pergaulan. Juga mengikut Yesus kemana pun kita menuju, ke tempat di mana Allah mengutus kita.
13.   Kapan pun. Bagaimana dengan sekarang?
14.   Apa pun. Bagaimana dengan yang itu?

Jadi buku ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk tidak sekedar menjadi penggemar Yesus, melainkan bersungguh-sungguh untuk menjadi pengikut Yesus.

Saturday, April 20, 2013

1009 view

Posting ini menandakan bahwa blog dan artikel-artikel resensi telah dibaca atau dilihat lebih dari 1000 (seribu) kali. Tepatnya 1009 kali pada saat posting ini. Akhirnya blog sarebu ini mencapai seribu view. =)
Semoga blog dan resensi ini dapat semakin menolong pembaca dalam memilih buku-buku untuk dibaca dan mendapatkan wawasan yang luas dan iman yang semakin kokoh serta kasih yang melimpah melalui resensi-resensi yang disampaikan.
Salam Sarebu... sampai jumpa di 2000 view...
Tuhan menyertai kita sekalian.

Thursday, April 11, 2013

Kabar Burung Tentang Dunia Lain



Kabar Burung Tentang Dunia Lain (Rumours of Another World)
Penulis: Philip Yancey
Penerbit: Gospel Press, 2004

Dunia saat ini sudah terjatuh dalam kecenderungan untuk “membedah” dan “memecah-mecah” setiap bagian bagian dari kehidupan. Manusia saat ini sangat menyenangi penelitian dan kemudian menjabarkan berbagai hal dalam berbagai macam hasil. Yancey menggambarkan bahwa dia mengikuti pameran “Body Plastic” dimana tubuh manusia asli diawetkan dengan zat plastic dan dapat dilihat bagian-bagian tubuh itu. Tubuh manusia itu dibedah dan diawetkan, dapat dilihat dan diselidiki, dapat dibandingkan organ yang sehat dengan yang sakit. Pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh manusia bertambah. Namun ada masalah. Akhirnya manusia mengalami kesulitan untuk “menyatukan” segala hal-hal itu. Bagian-bagian tubuh yang diawetkan itu bukan “manusia”, bagian-bagian itu jika dipisah-pisahkan bukanlah manusia hidup. Manusia hidup adalah suatu kesatuan yang luar biasa dari berbagai macam hal. Ilmu pengetahuan bersifat “membedah” sedangkan manusia perlu sarana untuk “menyatukan” sehingga hidup itu menjadi satu dan utuh bukan terpecah-pecah.
Menurut Yancey, Tuhanlah yang dapat menyatukan keterpecahan itu menjadi satu kesatuan. Banyak hal dalam dunia ini sebenarnya adalah kabar burung atau rumor tentang dunia lain, tentang suatu hal yang lebih tinggi dari dunia ini, tentang Allah. Oleh sebab itu manusia memiliki dua pilihan. Untuk mencari dunia lain itu atau untuk menyangkalinya. 

Yancey mengajak kepada para pembaca untuk belajar “memperhatikan”. Dalam kesibukan sehari-hari dan kericuan dunia teknologi modern (TV, smartphone) maka seringkali kita tidak memperhatikan akan tanda-tanda dari dunia yang lain, tanda-tanda keberadaan dan kehadiran Allah. Kita diajak untuk memperhatikan alam, untuk memperhatikan sikap-sikap dari manusia (baik yang bajik maupun sikap manusia yang terhilang), untuk memperhatikan pengalaman orang yang sakit. Tatkala kita memperhatikan dengan mata rohani maka kita dapat memandang kehidupan seperti Allah memandangnya, penyatuan dua dunia dan bukan pemisahan. 

Kemudian Yancey juga mengajak para pembaca untuk menjalankan kehidupan sehari-hari sebagai kehidupan yang utuh, di mana Tuhan hadir dalam segala hal. Manusia memiliki kecenderungan untuk memisahkan antara yang rohani dengan yang duniawi misalkan gereja itu rohani, bekerja di kantor itu urusan duniawi. Yancey mengatakan bahwa hidup menjadi berarti tatkala dua dunia menjadi satu, yaitu saat dunia ini dengan dunia illahi menjadi satu dalam kehidupan kita, seperti dikutip dari kelompok Benediktin, “Berdoa ya artinya bekerja dan bekerja ya artinya berdoa.” Dengan bahasa lain, hidup menjadi utuh tatkala seseorang dalam kehidupan sehari-harinya memindahkan pusat operasi dan kepentingan dari diri sendiri kepada Allah. Allah di dalam kita dan kita di dalam Allah. Dengan ini hidup menjadi bermakna, karena Allah ada dan kita hidup di dalam Dia. 

Buku ini juga memberikan 30 halaman untuk membahas tentang seks. Walaupun seks sering disetan-setankan oleh gereja, sebenarnya seks sendiri pada mulanya dan asalnya dapat membawa manusia untuk mengenali penciptanya dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Bagian buku ini akan membahas peran seks dalam kehidupan yang utuh, kehidupan yang tidak memisahkan dunia ini dengan Allah.
Yancey lalu akan menuliskan 4 bab tentang kekacauan yang melanda hidup manusia sehingga kehidupan manusia terpecah belah dan gagal untuk hidup bagi Allah. Segala hal yang nyata dalam kehidupan manusia seperti kejahatan, hasrat nafsu, dosa akan dipaparkan sebagai hal-hal yang menyamarkan kabar tentang dunia lain (Allah) namun sekaligus juga menunjukkan akan keberadaan dan pentingnya dunia lain (Allah). Cerita dan ilustrasi yang diberikan Yancey akan terasa tidak menghakimi para pembaca, dia tidak menuding ini itu salah atau ini itu dosa, tapi dia memaparkan cerita-cerita yang membuat kita menyadari bahwa ini atau itu memang salah atau berdosa. 

Pada bagian akhir dari bukunya Yancey mengajak para pembaca untuk menghidupi dua dunia ini bersama-sama, hidup dengan Allah dalam kita dan kita dalam Allah, dan tidak membagi-bagi kehidupan ini. Dikutip perkataan C.S. Lewis, “Bidiklah sorga maka bumi akan dilemparkan kepadamu. Bidiklah bumi maka engkau tidak akan mendapatkan kedua-duanya.” Yancey mengajak kita untuk hidup dan melayani dunia ini dengan sikap dan pikiran surgawi. Apa yang kita buat di dunia ini berpengaruh di dunia yang tidak kelihatan (kita berdoa di dunia, tapi doa kita didengar di surga; kita menolong orang miskin di dunia namun perbuatan kita seperti sudah melayani Tuhan sendiri), sebaliknya apa yang perjuangkan di dunia tidak kelihatan akan berpengaruh ke dunia yang kelihatan (doa orang benar membawa kesembuhan, pengampunan yang tulus muncul dari hati membawa dampak kepada orang-orang di dunia yang kita kasihi). 

Yancey mengajak para pembaca untuk memiliki iman yang teguh dan hidup di dalamnya bahwa Alkitab mengemukakan realist sebagai suatu keutuhan yang mulus, tanpa pembagian yang jelas di antara yang sacral dengan yang tidak senonoh, atau di antara yang almai dengan yang gaib. Hanya ada satu dunia Allah, dunia yang sakral yang telah dijadikan tidak senonoh oleh pemberontakan manusia. Misi kita adalah menyatukan kedua dunia ini, menghubungkannya kembali dan menguduskan dunia Allah, membangun kerajaan Allah di habitat bumi yang telah dinajiskan. Allah hidup dalam kita dan kita hidup dalam Allah. Sambil menanti akan tibanya hari penyatuan dua dunia, di mana kabar burung akan keberadaan Allah itu akan hilang dan digantikan dengan pujian karena Allah telah membawa bumi dan langit yang baru di mana Dia berada bersama-sama umatNya.

Wednesday, April 10, 2013

You can be a world changer



Judul: You can be a world changer
(Anda bisa menjadi seorang yang mengubah dunia)
Penerbit: Pionir Jaya Bandung
Buku dapat diperoleh di toko buku Kristen atau toko buku umum

Buku ini merupkan buku yang berisi 101 kisah singkat dan inspiratif dari berbagai macam orang. Tujuan buku ini adalah melalui kisah-kisah dari orang-orang yang pernah hidup di dunia ini maka kita dapat menjadi orang-orang yang membawa perubahan positif bagi dunia di mana kita tinggal. Dalam setiap kisah yang ada akan disimpulkan dalam kualitas-kualitas karakter yang membuat tokoh-tokoh tersebut menjadi orang yang membawa perubahan positif dalam kehidupan.

Buku ini menyadarkan kita bahwa orang yang kelihatan biasa-biasa saja bisa menjadi seorang yang luar biasa dengan mengembangkan prinsip-prinsip yang dijabarkan dalam buku ini. Mungkin sebagian besar dari kita tidak bisa mempengaruhi dunia dengan cara sedramatis tokoh-tokoh ini, namun harus diingat bahwa kita dapat mempengaruhi orang-orang yang berhubungan dengan kita setiap hari untuk membawa perubahan positi dalam hidup orang lain. Jika para pembaca menghidupi kisah dan prinsip dari tokoh-tokoh ini maka akan memberkati hidup mereka sendiri serta menjadi berkat bagi orang lain.

Berikut ini adalah beberapa contoh tokoh yang dituliskan dalam buku ini.

Michaelangelo (1475-1564)
Kisah dari seorang pemahat jenius yang diperintahkan Paus Julius 2 untuk mendekor dan melukis langit-langit dari kapel Sistine. Kapel ini adalah tempat rapat dari pimpinan-pimpinan gereja sedunia serta tempat pemilihan Paus. Luas dari langit-langit ini hampir mencapai 2000 meter persegi, hampir seluas lapangan sepakbola! Awalnya dia memanggil teman-teman pelukis untuk membantunya, tapi ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan maka dia membubarkan pelukis lainnya, ia membuat kembali gambarnya. Dia melalui berbagai kesulitan, seperti lupa dibayar oleh Paus, dia sakit-sakitan, terganggu oleh jamur dan kelembaban di kapel bahkan hingga tubuhnya “membusuk”, belum lagi dia harus melukis di langit-langit setinggi 20 meter yang berbentuk cekung. Dia berusaha keras menciptakan yang berbaik, hingga temannya ada yang berkata, “siapa yang akan tahu apakah gambarmu itu sempurna atau tidak? Begitu tinggi gambar itu di langit-langit.” Lalu Michaelangelo menjawab, “Saya yang akan tahu itu sempurna atau tidak!” Ia akhirnya menyelesaikan karyanya yang sangat terkenal itu dan menuliskan, “saya menderita lebih dari semua orang yang pernah hidup… dan dengan sangat lelah, tetapi saya mempunyai kesabaran untuk sampai pada tujuan yang diinginkan.”
Prinsipnya adalah “Para pengubah dunia tekun dalam mengejar kesempurnaan,”

Fanny Crosby
Saat berusia 6 minggu dia kehilangan penglihatan karena salah pengobatan, tapi dia tidak pernah menyuarakan kepahitan karena kebutaannya. Dia yakin bahwa Tuhan menguduskan dia dengan cara itu. Dalam satu kejadian bahkan dia mengatakan, “kalau saya diberi kesempatan lahir sekali lagi maka saya memilih tetap buta…karena ketika ke surga yang pertama kali kulihat adalah Dia yang mati bagiku.”
Dalam kebutaannya dia menulis lebih dari 8000 lagu. Dia seringkali menulis liriknya dulu atau mendengarkan nada lalu ciptakan lirik, seperti suatu kali dimainkan lagu dari seorang istri pendeta. Lalu dia berlutut dan berdoa sambil mendengarkan nada lagu itu dimainkan sebanyak tiga kali. Lalu dia mengatakan lirik lagu yang didapatkan dalam doa dan perenungannya, “Blessed assurance Jesus is mine. What a foretaste of glory divine” atau dalam bahasa Indonesia, “Jaminan mulia ku diberi…”. Selain itu dia juga menciptakan banyak lagu lagi yang masih dikenal hingga saat ini seperti lagu To God be the Glory (Mulia bagi Allah).
Prinsipnya adalah “para pengubah dunia fokus pada berbagai macam kemungkinan bukan pada keterbatasan.”

C.S. Lewis (1898-1963)
Pernah bertugas militer saat muda, dia terluka dan akhirnya pulang dan menyelesaikan kuliahnya. Dia akhirnya menjadi professor sastra di Oxford dan Cambridge. Sebagai pemuda Lewis menganggap dirinya seorang ateis (tidak percaya ada Tuhan). Pada usia 28 tahun di perpustakaan dia bercakap-cakap dengan Thomas Weldon yang mengarahkannya pada pencarian dan pergumulan rohani yang berlangsung selama 3 tahun. Pada akhirnya Lewis menulis, “Saya menyerah dan mengakui bahwa Tuhan adalah Tuhan dan berlutut serta berdoa. Mungkin malam itu adalah pertobatan paling tidak menyenangkan di Inggris.” Beberapa bulan kemudian dia berkata bahwa, “Saya telah melewati dari percaya Tuhan kepada percaya pada Kristus dan kekristenan.” Kemudian dia beribadah dan berkhotbah bahkan disiarkan secara nasional di Inggris.
Ia dikenal sebagai seorang tokoh yang tidak membuang logika dan pikiran dari iman, melainkan merajutnya bersama-sama. Ia mau mengakui bahwa pikiran dan filsfatnya dulu salah ketika dihadapkan kepada perenungan akan Tuhan dan ajaran-ajaran Kristen. Dan dia rela bertobat dari kesalahannya.
Prinsipnya adalah “ Para pengubah dunia memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan bersedia untuk berubah! “

Jadi buku ini sangat baik bagi setiap orang yang rindu bacaan yang bermutu bagi hidup tapi tidak terlalu berat. Karena para pembaca dapat membaca 1-2 kisah saja setiap hari, namun akan mendapatkan kekuatan serta berkat melalui kisah-kisah itu serta mendapatkan prinsip yang dapat menjadi pegangan dalam hidup. Buku ini juga sangat baik bagi para pembicara (pengkhotbah, motivator) sehingga memiliki contoh hidup dari orang-orang yang menjadi berkat bagi dunia, yang menjadi pengubah dunia.

Wednesday, March 27, 2013

Teologi Kucing dan Anjing 1

Judul: Teologi Kucing dan Anjing: Mengintrospeksi hubungan kita dengan Allah
Penulis: Bob Sjogren dan Gerald Robison
Penerbit: UnveilinGLORY Indonesia
Cetakan: Cetakan V, September 2008
(Dapat dibeli di Toko Buku Gamaliel GMIM Kristus Manado)

Bukan bermaksud mendiskreditkan salah satu binatang, tapi dari tingkah sehari-hari binatang ini muncul suatu perumpamaan yang menggambarkan kehidupan rohani orang Kristen.
Kisah sikap anjing dan kucing dalam hal menyambut tuan, mau keluar rumah menjadi suatu perbedaan. Anjing menyambut tuannya, kucing cuek. Anjing suka dekat tuannya, kucing sibuk dengan urusannya sendiri. 
Nampaknya anjing memiliki majikan, tapi kucing justru memiliki pelayan. Ciri-ciri anjing adalah setia dan suka melayani, sedangkan ciri-ciri kucing mandiri dan angkuh (mungkin mirip Garfield)
Ada lelucon, seekor anjing berkata, “Engkau mengelu-elusku, engkau memberiku makan, engkau melindungiku, engkau mengasihiku, engkau pasti Allah.” Kalau kucing mengatakan, “Engkau mengelu-elusku, engkau memberiku makan, engkau melindungiku, engkau mengasihiku, aku pasti Allah.”
Ini menggambarkan teologi Kristen yang dipahami saat ini. Banyak seperti kucing bahwa segala sesuatu adalah tentang kita, tentang saya.
Dalam kehidupan orang percaya, tipe anjing dan kucing sama-sama beraktifitas “rohani” seperti doa, ibadah, saat teduh, tapi beda motifasi.
Kristen tipe Kucing juga ingin masuk surga tp mengindari neraka, untuk kenyamanannya, hanya sekilas peduli Kristus. Kristus hanya jadi asuransi neraka, tidak ada sukacita bersama Yesus.
Tipe Anjing juga ingin masuk surga, bersedia “menjual segalanya demi kerajaan surga” alias karena terpesona dengan Tuhan Yesus sehingga rindu berjumpa di surga.
Dalam hal jaminan keselamatan, Kristen tipe kucing meyakini keselamatannya lewat pengalaman atau ucapan iman kepercayaan; sedangkan yang tipe anjing lewat kenyataan hidup dia semakin rindu Tuhan. Yang satu NATO (no action talk only) atau Omdo (omong doang) sedangkan yang satu hidup menunjukkan hidup yang sudah diselamatkan.
Dalam doa, tipe kucing berdoa secara egois untuk diri/gereja sendiri/kelompok sendiri.  Sedangkan tipe anjing berdoa untuk melayani orang lain dan peka kehendak Tuhan.
Dalam penyembahan; tipe kucing memanjatkan lagu-lagu yang menyembah Tuhan karena telah melakukan sesuatu untuk aku. Sedangkan tipe anjing memuji Tuhan bagi Tuhan sendiri dan karena kemuliaanNya.
Dalam Ketuhanan; bagi tipe kucing Tuhan adalah Tuhan selama berfungsi/berguna, jika sudah mengganggu/menuntut maka bukan lagi Tuhan. Bagi tipe anjing Tuhan adalah Tuhan kapan saja dan dimana saja. Tuhan berhak untuk menuntut dan mendidik mereka begitulah sikap Kristen tipe anjing.
Dan banyak lagi….
Teologi tipe kucing tidak salah tapi tidak lengkap. misalkan pemikiran, "Diselamatkan dari neraka" (tidak lengkap). Seharusnya diselamatkan dari neraka untuk hidup bagi Allah, nah ini lengkap.
Tipe anjing bukan fokus pada diri tapi pada Allah, mengutamakan kemuliaan Allah. Allah pada dirinya sendiri yang mulia, yang indah, yang baik dan yang kudus.
Kristen tipe anjing hidup untuk memulikan dan menyembah Tuhan, untuk menyerahkan diri dituntun dan dibentuk oleh TUAN-nya, sadar bahwa hidup bersama Tuannya dalam suka atau duka, sehat atau senang, kaya atau miskin adalah hal yang berbaik.

Thursday, March 7, 2013

Intervensi Adikodrati: Sembilan kisah nyata mukjizat



Judul: Intervensi Adikodrati: Sembilan kisah nyata mukjizat
Editor: Sid Roth dan Linda Josef
Penerbit: Waskita Publishing, Jakarta, 2011

Ada beberapa pengajaran bahwa mujizat-mujizat dalam Alkitab, terutama dalam PB, adalah hal-hal yang telah berhenti pada zaman rasul-rasul. Saat ini, kisah-kisah mujizat dalam Injil itu hanyalah menyampaikan kebenaran-kebenaran rohani, bukan jasmaniah lagi. Ada juga ketakutan bahwa mujizat-mujizat yang ada berasal dari iblis sehingga mendatangkan penyesatan. Sebagian lagi menyatakan bahwa Allah bekerja melalui medis (dokter dan obat-obatan).

Buku ini menantang pikiran dan pengajaran di atas. Mencoba untuk memaparkan pengertian dan kesaksian bahwa Allah masih bekerja dalam mujizat kesembuhan bagi umatNya pada masa kini. Editor buku ini sendiri adalah seorang Yahudi yang kemudian percaya kepada messiah Yeshua/Yesus  dan menaruh perhatian tentang mujizat kesembuhan yang dilihat dan dialami istrinya. Menurutnya Allah melalui Yesus Kristus telah menanggung dosa, kutuk dan penyakit dari manusia, sehingga manusia dapat dibebaskan dari sakit penyakit. Bahkan kuasa penyembuhan ini juga adalah cara untuk mengabarkan injil keselamatan bagi orang lain.

Sebelum saya beranjak lebih jauh, saya akan menyampaikan alasan kenapa buku ini diresensi. Penerbit buku ini dalam pantauan kami menerbitkan buku-buku yang sebenarnya bersifat teologis dan teologi yang bersifat non-kharismatik/pantekostal. Justru itu kemunculan buku ini menarik minat untuk diselidiki, mengapa buku ini muncul dengan karakter yang sangat berbeda dari buku-buku terbitan yang lain.

Ada 9 kisah kesaksian insan manusia yang dituliskan di dalam buku ini, dari berbagai macam penyakit dan latar belakang. Ada yang ketakutan, ada yang kutuk keturunan (emosional, narkoba), ada yang cacat, ada yang tulang rapuh, ada yang bayi tidak sempurna otaknya. Nah menurut buku ini penyakit-penyakit berasal dari iblis dan iblis memberikan penyakit untuk menghancurkan sukacita dan damai sejahtera umat manusia.

Ringkasan dari prinsip dari mujizat penyembuhan menurut buku ini adalah
1.       Allah menginginkan umatnya sehat. Dan Yesus Kristus adalah penyelamat yang menanggung baik dosa dan sakit kita. Yesus menyembuhkan roh dan tubuh kita.
2.       Hadirat Allah dan hubungan dengan Allah lewat doa dan penyembahan adalah lebih penting dari kesembuhan/mujizat yang dicari.
3.       Mujizat dan penyembuhan adalah dua hal yang berbeda. Mujizat adalah suatu penyembuhan yang instant dan penyembuhan adalah suatu mukjizat yang bertahap (hal 18). Jadi proses penyembuhan telah dan terus terjadi tatkala kita percaya, akan sempurna pada waktunya nanti.
4.       Kepercayaan (iman) yang diikuti ketekunan adalah hal yang kunci dalam membuka kuasa penyembuhan dari Allah.
5.       Percaya bahwa Firman Allah adalah kebenaran yang kekal. Ucapkan dan ulang terus menerus dalam pujian, doa dan penyembahan. Meditasikan dengan mengucapkan dengan suara kuat.
6.       Jagalah hati anda. Isilah dan pikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis didengar, kebajikan dan patut dipuji. Berikan pengampunan yang tulus dari hati anda.
7.       Tekun dan tidak pernah menyerah! Dikatakan, “pelayanan penyembuhan bukan seperti aturan di mana tiga kali anda salah pukul anda keluar. Anda hanya akan keluar jika anda menyerah. Tetap lakukan sampai anda melihat penyembuhan terwujud. Iman alkitabiah sejati tidak pernah menyerah.”
8.       Iblis akan terus menyerang iman kita, baik dengan kesakitan, atau dengan kata-kata yang melemahkan iman. Tapi kita tidak boleh kalah dan menyerah terhadap serangan iblis. Terus lawan dengan firman Tuhan dan doa sampai dia lari dari kita.

Ada beberapa hal yang prinsip/mendasar yang tidak sependapat dengan pemahaman peresensi, seperti
-Dari mana asal penyakit? Apakah benar setan sebagai satu-satunya penyebab penyakit, ataukah  sebenarnya penyakit itu juga bisa berasal dari kondisi alamiah (virus, bakteri).
-Yang Allah buat untuk satu dia buat untuk semua. (hal.82). Tapi mengapa di Alkitab kita melihat ada perbedaan? Misalkan Petrus dibebaskan dari penjara, sementara Yakobus dipenggal Herodes.
-Kesaksian dari salah satu kontributor tentang perjamuan kudus sebagai sarana untuk sembuh. Menurut hemat peresensi hal utama perjamuan kudus adalah “sebagai peringatan akan Aku”.

Namun beberapa kesaksian juga memuat kesamaan dengan prinsip dari pengajaran yang “Kristen injili” (Christian Evangelical Church) seperti
-          Dalam mencari kesembuhan yang paling penting dan utama adalah mencari Allah, menjalin relasi yang intim dan menyembah-Nya. Sang penyembuh lebih penting dari kesembuhan.
-          Kita tidak berkuasa untuk mengubah diri/menyembuhkan diri, jadi kita bergantung penuh pada dia untuk mengubah dan menyembuhkan kita.
-          Fakta medis adalah hal yang layak diterima, pengobatan medis adalah hal yang digunakan Allah untuk menyembahkan. Tapi fakta medis bukanlah penentu nasib kita, dan pengobatan medis bukanlah satu-satunya cara Allah menyembuhkan dan memulihkan. Fakta medis diterima, tapi fakta medis juga tidak dapat mengalahkan Firman Tuhan yang supranatural/adikodrati.
-          Kehidupan yang sudah disembuhkan Allah harusnya menjadi kehidupan yang bersaksi tentang Kristus dan melayani orang lain.

Kesimpulan:
-          Buku ini memang belum menjadi jalan tengah bagi pengajaran “kharismatik” dengan “protestan”, bisa menimbulkan kontroversi. Tapi bagi yang sudah matang iman dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang penting disana.
-          Peresensi sendiri memiliki pandangan “untuk tidak berhenti berjuang hingga Tuhan yang memutuskan.” Manusia berjuang dan berdoa, tapi keputusan akhir ada pada Tuhan. Kewajiban rohani kita adalah “percaya dan bermohon” terus menerus kepada-Nya, keputusan akhir adalah hak dari Allah.